Sabtu, 03 April 2010

TEGAKKAN SHOLAT PHK DIDAPAT

Berawal dari sebuah perkenalannya dengan seorang pemuda muslim Evi Cristiani yang kini sudah menjadi seorang muslimah yang patut dicontoh. Perilaku keislamannya benar-benar diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari walau begitu berat cobaan yang dihadapinya. Sekali syahadat sebagai kesaksian sakral sudah ia ucapkan maka pantang baginya untuk surut menegakkan kalimat Allah dalam kalbunya. Sudah pasti orang tuanya menentang keinginannya, Evi pun harus hijrah ke tempat kost agar ibadahnya lancar ia kerjakan. Belum lagi beres masalah dengan orang tuanya lantaran ia masuk Islam, Evi harus menghadapi masalah di tempat kerjanya. Gadis berusia 27 tahun bekerja di sebuah biro perjalanan yang mayoritas karyawannya beragama non muslim. profesionalisme juga tidak dijalankan di sana karena sikap sebagian besar karyawannya masih memakai sentimen agama. Hasilnya Evi jadi bulan-bulanan para atasan karena dianggap tidak sejalan dengan pola pikir
mereka. Ada acara rutin tiap dua pekan sekali yang wajib diikuti oleh karyawan bagian Evi bertugas. Acara yang sarat dengan unsur maksiat itu adalah mengunjungi bar-bar dan bersenang-senang hingga mabuk.
Dulu ia tidak pernah lewatkan acara itu tapi sejak ia masuk Islam jelas acara model itu ia tolak mentah-mentah. Segala alasan ia cari agar ia bisa terbebas dari dosa itu. Sampai akhirnya atasannya jenuh dan tidak akan mengajak Evi hura-hura lagi. Beres dengan yang satu itu muncullah masalah lain yang tak kalah menyakitkan Ketika seorang kawannya pulang dari tugas ke eropa, ia membawa oleh-oleh yang dibagikan ke
rekan-rekannya kantornya tak terkecuali Evi. Oleh-oleh berupa kue itu tak disangka mengandung daging babi. Lantaran Evi tidak tahu ia makan segigit kue itu lalu kawannya pun berkata,"Evi itu kan ada babinya kok dimakan juga" Mendengar hal itu Evi pun lari ke kamar mandi dan memuntahkan sebisa-bisa makanan dalam mulutnya sambil beristighfar tak henti-henti. Kawannya pun ia tegur, tidak keras tapi tegas.
Si kawan merasa tidak salah dan berkelit. Evi menghentikan debati tu dan coba menyabarkan dirinya Yang diingatnya hanya kekuatan Allah agar bisa memberinya kekuatan untuk dapat bertahan dari cobaan ini. Sejak itulah kebencian mulai tumbuh subur di antara rekan sejawatnya.
Menanggapi hal tersebut atasannya segera memindahkannya ke bagian lain. Lagi-lagi di bagian yang baru Evi dihujam oleh fitnah yang bertubi tubi. Manajernya yang baru justru yang menjadi momok lahirnya fitnahan tersebut. Cobaan demi cobaan itu dipuncaki dengan dipanggilnya ia oleh pihak SDM. Ia jelaskan bahwa ia harus menjalankan kewajibannya sebagai muslim yaitu shalat dan berusaha menghindari kemaksiatan sekeras mungkin.Jalan keluar tidak ketemu dan PHK jadi solusi yang terbaik.Evi terima dengan ikhlas,"rejekiku sudah diatur olehNya," gumam Evi mantap sambil keluar kantor dengan perasaan lega. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan lahir bathin buat sdri. Evi yang telah mendapatkan Hidayah di jalan Allah. Amin

Penulis Amma

Itulah Evi, yang baru menjadi muallaf (baru masuk Islam) memiliki ketegaran hati, komitmen dengan ajaran Islam. Semua larangan Allah ia tinggalkan, dan dengan berani ia tantang, walaupun harus kehilangan pekerjaan yang menafkahi hidupnya, ia yakin sekali kepada kuasa Ilahi, bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT.
lalu bagaimana dengan kita yang lahir dengan Islam? Seharusnya kita lebih baik dari Evi. Tapi kenyataannya banyak dari kita yang justru tidak peduli dengan larangan Allah, terutama dalam hal mencari rezeki, semua hantam kromo. Tidak peduli halal haram. Semua kegiatan perusahaan diikuti tanpa ada pertimbangan halal haram.
Wallahu a'lam...
Semoga kita berada dalam lindunganNya.
Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar