Kamis, 04 Maret 2010

Orang Mengaku Keturunan Rasulullah, bagaimana?

Thursday, December 31, 2009
Orang Mengaku Keturunan Rasulullah, bagaimana?
Menghormati Rasulullah SAW dan keluarganya adalah bagian dari perintah dalam agama Islam. Bahkan di dalam bacaan tahiyat dalam shalat kita, sebenarnya kita telah menyampaikan penghormatan, salawat dan salam kepada keluarga Rasululullah SAW. Allahumma shalli ala Muhammad wa 'alaa aali Muhammad. Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya.
Yang termasuk keluarga Muhammad SAW adalah kelurga Ali bin Abi Thalib ra, keluarga Al-Abbas bin Abdil Mutthalib ra, keluarga Ja'far bin Abi Thalib ra, keluarga 'Aqil dan keluarga Al-Harits bin Abdil Muththalib ra. Sedangkan istri-istri nabi menurut jumhur ulama tidak termasuk keluarga Nabi SAW, sebagaimana dikatakan oleh Abul Hasan Al-Batthal dalam syarah Shahih Al-Bukhari. Maksudnya, mereka tidak termasuk kategori keluarga nabi SAW yang diharamkan menerima harta zakat.
Sebagaimana kita ketahui bahwa mereka yang termasuk 'ahlul bait' atau keluarga nabi SAW, telah diharamkan untuk menerima zakat. Dalam hal ini Ibunda mukminin, Asiyah ra. pernah mengatakan,"Sesungguhnya kami keluarga Muhammad tidak dihalalkan memakan harta sedekah (zakat)."

Para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad, sepakat mengharamkan ahli bait nabi untuk menerima harta zakat. Sebab dalil yang mengharamkannya sangat kuat. Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Bani Hasyim, sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan atas kalian 'hasil cucian' manusia dan kotorannya (maksudnya: harta zakat). Dan Allah menggantinya dengan khumus (1/5) dari khumus (maksudnya: harta rampasan perang)."


Adapun dari sisi keturunan, sebenarnya Rasulullah SAW tidak punya keturunan dengan garis nasab laki-laki. Sebab beliau memang tidak punya anak laki-laki. Semua anak beliau yang hidup dan berketurunan hanya perempuan. Salah satunya dari sayyidatina Fatimah ra. yang bersuamikan sepupu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra. Maka Hasan dan Husein itu sesungguhnya bernasab kepada ayahnya, Ali bin Abi Thalib ra. Itu kalau kita mau konsekuen dengan garis nasab syar'i, dimana jalurnya memang lewat jalur ayah. Dari Hasan dan Husein ini memang banyak sekali melahirkan keturunan yang sambung-menyambung hingga hari ini. Sebagian keluarga tertentu masih memiliki catatan nasab mereka hingga sampai kepada kedua orang cucu Rasullullah SAW ini.
Banyak dari mereka yang memang benar-benar menjadi sosok ulama dan ahli ilmu agama. Banyak umat Islam yang mempelajari ilmu-ilmu agama dari mereka. Namun tidak semua mereka menjadi ulama, banyak pula yang menjadi pedagang, pengusaha dan beragam profesi lainnya. Dan sebagai salah satu elemen dari kelompok masyarakat muslim, tidak tertutup kemungkinan bila ada diantara mereka yang melakukan hal-hal yang juga dilakukan oleh kebanyakan masyarakat lainnya. Tidak ada jaminan baik dari Al-Qur'an atau pun As-Sunnah bahwa mereka kebal dari dosa atau dijamin masuk surga.
Yang shaleh dari mereka akan mendapatkan ganjaran dan yang berdosa dan berbuat maksiat akan mendapatkan dosa dan siksa dari Allah. Bahkan bila mereka melakukan pelanggaran, sebagai 'keturunan' nabi, mereka punya beban yang lebih, dimana pasti akan membuat malu keluarga dan nama Rasulullah SAW sendiri.
Mengenai kepastian apakah mereka benar-benar keturunan nabi, kita tidak bisa mengatakan salah atau benar. Karena biasanya dalam keluarga mereka memang sering tercatat silsilah mereka yang bila terus ditelurusi sampai kakek yang ke sekian, akan sampai nasabnya kepada Hasan dan Husein hingga kepada Ali bin Abi Thalib ra, yang menjadi menantu Rasulullah SAW. Namun semua itu di sisi Allah tidak lantas menjadi dasar untuk menjadikan mereka memiliki semacam 'fasilitas' atau 'keringanan' dalam hukum dan syariat.
Selain dari kelompok mereka, ada juga kelompok lain dalam umat Islam yang sering juga mengaku sebagai keturunan Rasulullah SAW. Misalnya orang-orang syiah di Iran.
Menghormati mereka sama seperti kita menghormati semua umat Islam lainnya. Karena di sisi Allah semua manusia itu akhirnya hanya dibedakan dari taqwanya semata. Bukan semata-mata dari darah dan keturunannya. Bila ternyata mereka merupakan sosok ulama yang sarat dengan ilmu dan ajaran Islam, kita menghormatinya karena ilmunya. Orang yang berilmu dalam masyarakat Islam memang memiliki keutamaan bahkan melebihi dari keutamaan para pejabat maupun orang-orang kaya sekalipun.
Tapi sebagai orang yang berilmu tinggi, maka perilaku dan akhlaqnya pastilah mencerminkan ketinggian ilmunya. Semakin berilmu biasanya semakin tawadhdhu‘, semakin sholeh, semakin menyayangi sesama, semakin tenggang rasa, semakin banyak amal dan shadaqahnya, semakin besar rasa malunya, semakin tidak serakah dan semakin manusiawi.
Sehingga orang-orang semakin respek dan semakin tinggi penghormatannya. Sebaliknya, bila tidak seperti itu, biasanya ilmunya pun tidak sebesar penampilannya. Bukan tidak mungkin ada satu dua kasus dimana mereka menjadikan 'darah biru'-nya hanya dijadikan sekedar komoditas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar